Kamis, 19 September 2019


Hallo!

Dari tempat saya bekerja
Lebih tepatnya, dari ruangan yang biasa saya pakai bekerja
Saya dapat melihat hamparan langit dan dataran lapang yang cukup luas
Tapi bukan itu yg menarik perhatian saya
1 pohon yang cukup besar terlihat...kokoh?
Saya jadi ingat pelajaran IPA saat SD dulu
"pohon itu hebat, bisa menghasilkan oksigen, itu kenapa kalau dibawah pohon rasanya sejuk dan segar" betul sih
Tapi seiring bertambahnya usia, mungkin bisa disebut semakin saya menua dan belajar dewasa
Tidak perlu berada dibawah pohon, melihatnya dapat membuat pikiran sejuk

Seperti cerita saya dengan pohon ini, saat saya (mungkin) sedang senang, kalut atau memiliki sedikit masalah
Melihat pohon-pohon itu rasanya menyenangkan, dilatarbelakangi awan biru dan menjadi lebih terik siang hari lalu kembali meredup pada sore.
Kemudian pohon dan daun itu hampir habis masanya
Bunganya layu dan gugur, kemudian satu persatu daunnya berjatuhan
Menunggu kembali tumbuh daun dan bunga yang baru, mekar. Kembali indah

Bukankah seperti itu pula siklus manusia?
Kita mengalami fase bermekaran bahagia, dan lalu menjadi layu.
Tidak perlu sedih lagi ya?
Bila hari ini sedang buruk dan besok
(masih buruk)
Pada akhirnya akan tetap indah
 menjadi bermekaran

Bandung, 20 september 2019

Selasa, 17 September 2019

Pesan yang tak tersampaikan

Hai mata yang indah
(setidaknya hingga awal tahun kemarin)
Aku duluan ya,  maaf
Aku sudah hampir sampai.
Doakan aku cepat sampai dengan selamat
Juga untukmu. Salam

Bandung, 18 September 2019

Rabu, 11 September 2019


Tangan

Untuk segala lelah
Membereskan rumah, mencuci banyak hal
Memasak atau sekedar menuang air dalam gelas
Melihaikan jari mengetik pesan
Menolong orang lain
Memberi manfaat

Bekerja mencari keberkahan
Berjabat dengan kawan
Merangkul anak penuh kelembutan

Untuk peluh pergerakan ke segala arah, 
Sepanjang hari
1 pasang tangan 
mampu menghasilkan berjuta kebaikan
Kebaikan yang di pimpin 
Oleh 1 otak ber-tak terhingga saraf
Terimakasih
Tangan

Bandung,  12 september 2019

Minggu, 08 September 2019

Menjadi tenang?

Sulit sekali
Untuk menjadi tenang
Sementara,
Genderang, deru, riuh
Manusia berlagu syair
Terngiang dari segala arah
Seperti panahan
Atau peluru logam
Kian menancap

Bandung, 9 september 2019

Sabtu, 31 Agustus 2019

Hatinya Mutiara

Karena sebelum ini,
Aku sudah sekian kali singgah
Menepi
Sementara kapal terus berlayar
Pilihannya kembali sama
"mau menetap disini?"
"belum" jawabku

Yang dimata serupa sempurna
"masih belum" kataNya
Berlayar kembali aku, dengan kapalku
Sendirian.

Mulai lelah,
Tidak ingin memulai lagi
Berlayar sendiri tidak buruk
Kapalku terus berjalan, hanya saja
Semakin menua, semakin meletih
Gamang, galau

Kembali aku menepi
Pulau ini indah sekali...
Rerimbunan pohon
Kicauan burung
Tanda alam tenang masih asri

"Sekarang, menetap!?"
"ku pikirkan dulu, ku jawab kemudian"

Beberapa hari
Beberapa minggu
Beberapa bulan

"iya, aku akan menetap, lalu kemudian aku kembali berlayar, namun tidak sendirian"

Tulisanku belum selesai

Bandung, 1 september 2019


Minggu, 16 Juni 2019

Samudra dan Awan (VI)

Kali ini, samudra kembali sendiri. Petir telah menang, menarik awan kembali ke pelukannya. Lalu penulis dalam cerita ini menyesal, mengapa harus dinamai awan? Terasa berat sekali, ketika keluar rumah, kemanapun melangkah, bukankah awan yg mengelilingi bumi dan membungkus semesta?

Sampai waktu yang belum dapat ditentukan, samudra masih saja bersembunyi.

TAMAT

Rabu, 05 Juni 2019

Samudra dan Awan (V)

Senja ini, samudra mengalami ombak yang sangat besar, menggulung gulung, petir ikut mengiringi derasnya.
Awan sedikit tersibak kilatnya. Semengerikan itukah awan? Pikir samudra. Pada suatu waktu, kilat itu menyambar ombak samudra. Di lesatkan dengan kerasnya samudra oleh kilat tersebut. Kilat pernah menjadi bagian dari hidup awan yg samudra kenal! Oh ternyata dia kilat itu. Di satu sisi, kilat terus menghujam samudra, membuat samudra menjadi.... Membenci awan? Belum.
Samudra berusaha tenang, menenangkan ombaknya, menjaga hatinya, menjaga awan dan menjaga kisah mereka. Lalu di senja itu, kilat masih terus, tanpa lelah mempengaruhi samudra. Pada suatu titik, samudra melemah, iya bingung dengan apa yang harus ia putuskan. Perasaannya kah?  Atau perasaan kilat yang belum mau melepas awan pergi. Sedih sekali, bila perlu memilih, tidak perlu ada perjumpaan itu bukan? Tidak begitu. Samudra sangat menikmati, perjumpaan tersebut. Bukankah baru kemarin kalimat "jalani dulu saja" terlepas dari gumpalan ombak samudra itu? Mengapa begitu cepat?
Tanpa disadari. Satu hal yang tetap samudra pandang siang dan malam itu awan bukan?
Samudra selalu menegaskan, awan yang ia punya (sampai saat ini)  tetap sama. Lalu bagaimana cara agar dapat berpindah?
Dalam bisikan gusar ombak samudra "yang mau menyakitiku sudah banyak, haruskah kau menjadi salah satunya untuk tidak memperjuangkan aku awan?" dalam sendu penutup senja hari ini, samudra tetap gusar. Menunggu ditarik awan, atau dilepas jauh dan tidak kembali lagi.

Merak, 5 Juni 2019