Senin, 28 Maret 2022

Mendung itu sama

Mendung di luar mengingatkanku tentang rasa kehilangan 3 tahun silam. Oh mengapa rasanya sama? Mendung hatiku serupa. 

Kukira setelah aku lebih dulu berpamitan takkan ada lagi rasa seperti ini. Banyak kasih sayang yang ternyata masih membekas dalam hati tertolak raga. Tak mengapa, aku betul betul dapat mengatasi retak hati yang terasa. Semoga, doakan aku ya…


Bandung, 28 Maret 2022

Rabu, 09 Maret 2022

Pesan menjelang 1 tahun anakku

Banyak yang ingin ku contohkan pada anakku

Mengenai makna, tentang

Memaafkan lisan yang meggores hati

Mengerti sikap yang iapun belum sadar salahnya

Menentang dendam yang memberatkan kerja hati

Lalu juga akan kutegaskan, bahwasanya

Nak, bila hatimu itu terlihat bentuknya 

Tentu ia sudah tercabik lalu kembali utuh setiap hari

Bijaklah mengatasi ego, karena sesungguhnya

Semakin baik akhlakmu, semakin baik pula hati dan lisanmu

Karena hati dan lisan ibarat cangkir dan isinya

Apa yang tumpah sesuai dengan isi hatinya


Bandung, 9 maret 2022

Selasa, 01 Maret 2022

Ber - sangka - pra sangka

 Lucu sekali siang ini

Ada opini yang terus bertumbuh

Ada ego yang memaksa keluar

Ada rindu yang menggelitik sejiwa

Kalau saja lembaran buku dalam hatimu,

Dapat terbaca sekejap mata telanjang

Tentu tak akan terbangun prasagka antar makhlukNya

Hati tercipta di dalam, jauh sampai tidak tau dimana

Letaknya tak nampak, tapi terasa jelas sakitnya

Bilamana ada yang perlu ku koreksi

Ialah isi pikiranku sendiri

Dengan mengkodinir setiap makna

Dengan mengatur prasangka di di dada


Bandung, 2 maret 2022

Senin, 28 Februari 2022

Para suami yang hatinya jarang terdengar

 Dia yang tangannya belang itu,

Sebetulnya sedang menghadapi alur kejam dunia

Ia yang rambutnya mulai apek, tercampur debu itu,

Sebetulnya merasa penat lelah 5, 10 hari kedepan

Ia yang senyum tulusnya masih terpampang setiba dirumah,

Sebetulnya menahan riuh dera emosi di dadanya

Lalu mengapa ia begitu nampak kuat setiap saat?

Bagaimana tidak? Jari mungil dan tangan lentik bau bumbu yang menggenggam erat bahunya itu selalu menahan dan menopangnya setiba dirumah

Lalu, seraya memandang matanya, si tangan berbau bumbu itu berkata

Setiap kali melihatnya terpejam tenang disampingku, ingin rasanya beban yang menghimpit pikirannya itu kami bagi berdua

Lalu ia menolak, katanya 

Bagaimana mungkin aku membiarkan tangan dan pikiran istriku menjadi sekasar milikku

Kemudian pemilik tangan berbau bumbu itu menjawab

Baiklah tak apa sayang… selalu ada pelangi bahkan setelah hujan badai petir seburuk apapun, kami akan selalu menemanimu

Sejurus kemudian mereka menikmati perjalanannya, dengan bebatuan didepan jalan atau angin ribut diatasnya.

Bandung, 1 maret 2022

Kamis, 10 Februari 2022

Terlambat menyadari

Hari berganti hari, lalu bulan, kemudian tahun. Ternyata aku baru sadar bahwa aku mencintaimu dalam diam. 

Tahukah kalian? Terlalu sering bersama akan menyamarkan sebenar benarnya perasaan yang ada? Kemudian, tetiba aku mencintai orang yang lain. Orang itu sangat bersahabat denganmu. Namun aku ternyata sadar, kamu tidak begitu antusias. Apa aku yang tak mengenalmu dengan sempurna? Atau aku yang terlalu sibuk dengan orang baru tersebut. 

Kemudian saat kebahagiaanku sempurna, aku baru menyadari. Aku pernah mencintaimu. Mungkin  dulu aku terlalu mengelak atau aku terlalu sibuk mengacuhkan perasaanku. Tapi tak apa. Aku tak pernah menyesali rasa yang pernah ada, juga tak pernah menyesal terlambat menyadari. Karena aku yakin semua yang Allah berikan saat ini, ialah si terbaik dari semua yang paling baik. 

Terimakasih, atas mendadak rindu ini. Aku sudah cukup, dengan menerima perihal "terlambat menyadari"

RS Limijati, 11/2/2022

Rabu, 06 Januari 2021

Di usia 20 tahun+

 Pada usia ini, tentunya kita sudah mampu memaknai banyak hal

Orangtua yang raganya semakin melemah, misalnya

Lihat saja mereka!

Tersedu ketika melihat pasangannya sakit

Mengapa bisa seperti itu?

Karena waktu, memenjarakan mereka terus bersama


Di usia ini, lihat temanmu 

Ia terus berkelana melawan dunia

Berharap kelak tangannya pun digenggam 

agar sewaktu terjatuh tangan itu menahannya

Gagal coba lagi jatuh bangkit lagi


Lalu juga usia ini, kerabatku

Ia sibuk bermesraan dengan tangan mungil

Oh ya! Anak itu mirip sekali dengan lelaki sebelahnya

Mereka keluarga kecil yang bahagia

Dengan mata berbinarnya seperti siap kemana saja 

Asalkan tetap berbarengan dengan keluarganya


Dan tanpa kita sadari

Di usia ini, lalu sudah menjadi seperti apa kita?

Jikalau memang belum ada yang menggenggam tanganmu, hari ini

Belum ada bayangan tangan mungil itu mirip siapa kelak

Juga, siapa yang akan membersamaimu

Menemani masa lemah menua

Tetaplah berjalan, jangan lari terlalu kencang

Supaya lututmu tidak dadas terlalu dalam

Obati dirimu sendiri, obatmu ada di depan matamu

Pada tuhan, gantungkan harapmu

Pada keluarga dan teman kerabat panjangkan lenganmu

Bersama yang saat ini ada (saja)

Syukuri, dan kamu akan merasa cukup


Bandung, 7 Januari 2021



Pernikahan perak (25 tahun kebersamaan)

Mengeja setiap pagi setelah 

9125 hari bersama 

Kebahagiaan, kesedihan, perjuangan

Peluh lelah yang menetes

Juga haru biru yang memuncak


Menerima, memaafkan, mempercayai

Saling merawat saat sakit

Menghibur di kala kecewa

Tidak perlu lagi ada alasan 

Untuk tidak saling bergantung satu sama lain,

Bukan?


Karena semakin menua

Maka raga mulai melemah

Mungin, dikala itulah letak

"Makna kebersamaan" berarti

Mengiringi doa untuk anak anak tercinta

Diiringi doa dari anak yang sholeh

Semoga tetap bersama hingga maut memisahkan

Sampai

Di surgaNya


Dibuat, 6 Januari 2021