Senin, 15 Mei 2023

ADA APA DENGAN ANAK USIA 2-3 TAHUN?

Hai parents!! Apa aja sih keunikan dan poin penting pada anak anak usia 2-3 tahun?
  • Merupakan masa dimana anak sulit dikendalikan
  • Anak memiliki energi yang banyak sehingga bisa berlari larian seharian, menirukan suara tv dan radio. Bahkan pada malam hari ia masih banyak sisa tenaga
  • Anak ingin menyelidiki segalanya, memberontak pada setiap larangan dan ingin mengerjakan semua hal sendirian.
Jadi… poin pentingnya apa ya yang bisa kita lakukan pada fase usia anak tersebut?
Jawabannya adalah jika orangtua bisa memuaskan keinginan anak untuk belajar dan memberi ia kesempatan yang cukup, maka ia akan mudah dikendalikan.

Berikut ini adalah beberapa cara yang bisa dilakukan orangtua untuk mengusahakan keadaan kehausan belajar pada anak :
  1. Membantu anak menambah pembendaharaan kata
  2. Orangtua tidak boleh acuh, terlalu sibuk sendiri dan malas memberi rangsangan bahasa
  3. Dengarkan anak dengan sabar, jangan mengucapkan kata kata sebelum anak mempunyai kesempatan
  4. Orangtua membantu anak melihat hubungan sebab akibat dengan cara sederhana
  5. Berikan peraturan yang kompak dan adekuat
  6. Bacakanlah buku secara teratur, cerita yang sederhana dan bergambar menarik mengenai kesukaan anak, jangan lupa untuk memberikan pesan moral yang dapat dipelajari oleh anak
  7. Berikan mainan yang merangsang fisik, sosial emosional dan intelektual
  8. Ajak anak bermain keluar rumah
Itu tadi yang dapat parents lakukan pada anak anak udia 2-3 tahun. Jadii, stop memberikan label anak nakal pada anak yang sulit diatur ya bunn! Karena sebetulnya itu cara anak menunjukan semangatnya dalam belajar.

Terimakasih!

Azizah Mutiara Rusli, Amd. Kes
Terapis wicara

Palembang, 15 Mei 2023


Rabu, 10 Mei 2023

Apakah anakku Speech Delay?

HATI HATI!!

Ditemukan di usia 2-16 tahun, anak-anak mengalami gangguan perkembangan bicara dan bahasa (Soetjiningsih, 2013)

Apa itu Speech Delay?

Adalah kondisi dimana anak mengalami keterlembatan dalam mengungkapkan apa yang ingin ia sampaikan, baik dari penguasaab bunyi bicara yang terlambat dari usia ataupun kemampuan fonologi yang terhambat.

Kapan anak dikatakan speech delay atau mengalami gangguan perkembangan bahasa?

1. Pada usia 6 bulan, anak tidak mampu memalingkan mata dan kepala terhadap suara yang datang

2. Pada usia 10 bulan, anak tidak memberi reaksi terhadap panggilan namanya sendiri

3. Pada usia 15 bulan, anak tidak mengerti dan tidak memberi reaksi terhadap kata kata jangan, dada dan sebagainya

4. Pada usia 18 bulan, anak tidak dapat menyebut 10 kata tunggal

5. Pada usia 21 bulan, anak tidak memberi reaksi terhadap perintah (misalnya duduk, kemari, berdiri)

6. Pada usia 24 bulan, anak tidak mampu menyebut bagian bagian tubuhnya, anak tidak mampu mengungkap keinginannya dalam 2 kata, perbendaharaan anak sedikit

7. Pada usia 30 bulan, ucapannya tidak dapat dimengerti oleh anggota keluarganya

8. Pada usia 36 bulan, anak tidak dapat mempergunakan kalimat sederhana, tidak mampu bertanya dengan menggunakan kalimat tanya yang sederhana. (Soetjiningsih, 2013)

Lalu apa yang harus dilakukan bila ada gejala speech delay seperti yang diuraikan diatas?

Segera bawa anak konsultasi kepada dokter spesialis anak atau klinik tumbuh kembang. Kemudian Terapis wicara akan membantu anak mengejar keterlambatan yang dialaminya.

Azizah Mutiara Rusli, Amd. Kes

Palembang, 11 Mei 2023

Selasa, 10 Januari 2023

Memilah Rasa

1 hal yang baru saja kupelajari di usia 26. Janganlah kamu sibuk bercerita kesuksesan mu melawan dunia sehingga kamu berpikir dunia hanya keras padamu sedangkan orang lain yang diam mungkin lebih berat ujiannya.

Menjadi tinggi hati memang tidak terasa, kamu merasa bangga sudah banyak melewati hal hal berat lalu bercerita tanpa memilah rasa. Bisa jadi saat kita berkoar tentang pencapaian diri sendiri, telinga yang mendengarmu sedang berjuang mati matian tapi tidak mau berbicara. Bisa jadi telinga yang mendengarmu ujiannya lebih berat tapi ia menolak menjadi sepertimu, si tinggi hati yang tak pandai memilah rasa. Bila kamu adalah tipe orang pencerita, pilihlah telinga dan hati yang sudah kau dengar keluh kesahnya, sehingga tidak ada hati yang diam diam tersinggung karena tuturmu. Karena sebaik baiknya manusia adalah yang selalu berusaha merubah diri. 


Palembang,11 Januari 2023

Senin, 19 Desember 2022

Hati (yang paling) Menerima

Pernahkah kalian melewati masa “hanya mampu menerima?”

Bila pernah, selamat mungkin kita sudah mampu naik kelas.

Menjadi dewasa itu menakutkan, ya?

Lagi lagi ujian tanda Allah sayang padamu itu, mampu membuatmu tetap berlari.

Walau kadang raga terasa tak sanggup lagi

Hampir tertatih namun sisa tenaga menegakkan tubuhmu (lagi)


Juga kalimat “semua indah pada waktunya”

Jadi lebih terasa lama tergapai karena ternyata ujian itu masih mengantri didepan mata


Hari ini aku mau sedikit cerita, tentang suamiku yang hatinya luas dan damai walau Allah mengujinya bertubi tubi


1 bulan setelah kami merantau, dalam dekapan rindu yang terus membuai, suamiku harus merelakan kepergian ayahnya…

Sepanjang malam bapak ada di icu, sepanjang malam itupun tangan suamiku tetap menengadah duduk bersimpuh diatas sejadah.


Saat kabar itu datang, suamiku tak lantas merengek tak terima, isakkannya kecil dan tak bertahan lama.

Dalam perjalanan menuju kampung halaman yang tidak sebentar, suamiku mampu tegar tetap tersenyum sembari memangku anak kita

Sesampainya di pusara ayahanda, ia dengan khusyuk berdoa… menundukkan kepala, tanpa isak…

Selesai itu, ia berdiri dan berjalan menjauhi makam bapak.

Saat itulah, 3 langkah dari makamnya ia lalu menangis, isakannya dalam… air mata tak berhenti menetes… hingga kami sampai dirumah sanak saudara untuk menjemput ibu.

Sebelum bersalam dengan ibu, suamiku bercermin, ia cuci muka dan kembali ke depan pintu… menyapa ibu tanpa ada air sedih sedikitpun di wajahnya… 

Ya Allah… 

Melihat semua kenangan antara suamiku dengan bapak, bilalah aku ada lah suamiku, pastinya sudah bengkak dan terpuruk hatiku saat itu.


Maka ini yang kumaksud, 

Tentang hati yang paling menerima.


40 hari setelah kepergian bapak kami

Palembang, 9 desember 2022 

Senin, 01 Agustus 2022

Aku menjadi “ibu”

Tidak lama setelah aku menikah, aku menonton video yang lewat di instagram, tentang seorang perempuan yang baru saja memiliki 1 anak dalam keluarganya. Kalimat yang ku garis bawahi adalah “seseorang tidak akan benar benar mengerti seorang ibu sebelum ia menjadi seorang ibu”. that’s true. And now, here’s my story. 

Malam itu di meja operasi aku dengan setengah sadar mendengar sayup tangis seorang bayi. 20 maret 2021 pukul 23.05 aku secara resmi menjadi seorang ibu. Dokter didekatku bilang “anaknya laki laki ya bu”. Aku menangis, dengan masih menggigil karena kedinginan, dalam otakku hanya ada pertanyaan “gimana wajah anakku? Sehatkah dia? Dinginkah?”

Keluar dari ruang pemulihan aku disambut suami, orang tua dan mertua. Wajah mereka yang mengantuk, lelah dan khawatir. Aah aku sangat merasa disayang. Tidak lama di ruang rawatku orang tua dan mertua pamit untuk istirahat. Lalu suamiku berkata “ayaang allhamdulilah ini anak kita, tadi setelah lahir dia tidak langsung nangis, mas adzan di telinganya dia hanya merintih, mas diminta keluar ruangan dulu… mas khawatir banget… pas mas ga lama diluar baru perawat panggil lagi buat kabarin akhirnya anak kita nangis, karena anak kita terlilit di lehernya mungkin itu penuebabnya” mata suamiku yang merah lelah itu tambah memerah menahan isak masih memegang hp yang layarnya foto anak kami, anak ganteng yang kuat. Begitupun aku. Dalam 1 malam setelah ku dinobatkan sebagai ibu, aku diberi anugerah rasa khawatir yg sangat besar, tentang menjadi seorang ibu. Ya Allah beginikah rasanya menjadi ibu? Tidak peduli dingin yg masih menusuk, darah yang masih keluar deras dan jahitan yang perih luar biasa…aku hanya memikirkan kondisi anakku.

Sampai malam ke 2 aku belum bisa bertemu anakku karena ia masih dalam pantauan dokter, selama itu juga aku masih menikmati perih yang luar biasa di bekas jahitan caesar ku bahkan aku hanya menarik nafas. Saat itu asi ku belum juga keluar, sedih? Tentu. Rindu? Juga. 9 bulan kemarin aku selalu merasa gerakan dan tendangan anakku di perut. Kini perutku kosong, anakku belum dapat kudekap. 

Hari ketiga, dengan sakit yg berangsur berkurang aku pulang dengan anakku ikut juga. Bahagia. Malam malam pertama sebagai ibu itu rasanya… lelah dan senang berbaur menjadi satu. Kurang tidur bahkan susah mencari waktu makan sangat kami rasakan sebagai ayah bunda baru. Setiap kali anak kami menangis, aku susui dan tetap nangis adalah saat saat terberat. Sakitkah ia? Hanya itu dipikiran kami… hari ke 4 anakku dirumah, Allah memberi kejutan untuk kami untuk rehat sejenak, anakku harus dirawat karena bilirubinnya tinggi. Sayangnya ia harus dirawat sendiri, aku hanya boleh menitip asi perah lewat perawat saja selama ia dirawat. Mendengar itu aku mencium wajah anakku berulang kali sebelum kami berpisah sementara. Dirumah, sembari pompa asi ku ciumi bantal dengan aroma khas anakku… lagi lagi menangis, rindu sekali bunda nak… nyenyakkah bobo di rumah sakit tanpa bunda nak? Bunda susah tidur… bunda kangen. Hanya itu dipikiranku. 

Hari ke 4 akhirnya anakku boleh pulang. Pertama kali bertemu kembali dengan anakku, rasa bahagianya tidak terkira. Kuciumi anakku, ku peluk erat. Kubisikkan di depan wajahnya “bunda ga akan pernah ninggalin kaka ya, makasih ya nak sudah berjuang untuk bisa cepet pulang” 

Aku sadar, tidak akan pernah bisa aku belajar menjadi lebih sabar dan lembut hatiku bila tidak menjadi seorang ibu.

Nak sungguh, ternyata bukan kamu yg belajar menjadi manusia… tapi aku yg belajar menjadi seorang ibu.

Menjadi yang pertama kau lihat setiap pagi, yang selalu kamu intili dimanapun adalah hal terbahagia walau kadang aku bete bila susah mandi dan makan dengan tenang.

Setelah menjadi ibu, aku baru sadar ternyata mencium bau asem bajuku adalah hal yang menenangkan bagi seorang anak. Ia bisa bebas mengelap ingusnya, mendusel dan menariknya dengan bahagia.

Ceritaku belum selesai, nanti kita ketemu lagi ya!

Selasa, 07 Juni 2022

Maaf

 Sedang dalam fase

Mengapa sulit untuk berhenti berpikir…

Bagaimana bila aku tidak memilih ini agar bisa kembali kebeberapa tahun yg lalu?

Dan aku akan belajar tidak menggantung kebahagiaanku pada paku rapuh yang tersangkut pada orang lain…

Menunggu jatuh tanpa ada yg menangkapku,

Dibawah

Cibiru, 7 Juni 2022

Senin, 28 Maret 2022

Mendung itu sama

Mendung di luar mengingatkanku tentang rasa kehilangan 3 tahun silam. Oh mengapa rasanya sama? Mendung hatiku serupa. 

Kukira setelah aku lebih dulu berpamitan takkan ada lagi rasa seperti ini. Banyak kasih sayang yang ternyata masih membekas dalam hati tertolak raga. Tak mengapa, aku betul betul dapat mengatasi retak hati yang terasa. Semoga, doakan aku ya…


Bandung, 28 Maret 2022