Semenjak tadi malam,
Maka membaca pesan di surelku
Ialah definisi bahagia dan sekarat
yang menyenangkan
Seperti aku kaku lalu bergejolak
Lagi dan lagi.
Tapi aku kecanduan.
Dan semenjak tadi malam,
Maka pesan singkat darimu
Adalah definisi bahagia yang akan terus
Aku kutip.
Tanggal 19 mei saja
1996. Bulan ke 12. Pertama. Kalau kamu tanya apa bahagiaku, maka jawabannya adalah ketika kamu, fantasiku dan alat tulis mampu mendeskripsikan segala hal melalui tulisan. [catatan : kamu bukan hanya manusia]. Stay Absurd.
Minggu, 19 Mei 2019
Maaf. Ya
Maaf.
Maaf ya.
Maafin aku.
Kalau semua hal itu diteruskan,
Pastilah bentuknya seperti timeline di hari lebaran.
Bukan itu maksudku.
Malam ini mungkin aku kembali membuat ragu si tuan. Katanya ia tidak suka tempat ramai, tapi aku suka....
Dan aku memaksanya untuk bertahan di keramaian
Egois sekali aku.
Tapi bukan lagi itu maksudku
Aku ingin ditarik olehmu ke tenang dan bersembunyi ditempat kesukaanmu itu.
Ups, maaf aku kembali memaksamu
Aku hanya ingin ikut...
Dengan kamu tapi ya?
19 Mei 2019
Maaf ya.
Maafin aku.
Kalau semua hal itu diteruskan,
Pastilah bentuknya seperti timeline di hari lebaran.
Bukan itu maksudku.
Malam ini mungkin aku kembali membuat ragu si tuan. Katanya ia tidak suka tempat ramai, tapi aku suka....
Dan aku memaksanya untuk bertahan di keramaian
Egois sekali aku.
Tapi bukan lagi itu maksudku
Aku ingin ditarik olehmu ke tenang dan bersembunyi ditempat kesukaanmu itu.
Ups, maaf aku kembali memaksamu
Aku hanya ingin ikut...
Dengan kamu tapi ya?
19 Mei 2019
Samudra dan Awan (II)
Kali ini pemikiran samudra mulai terbuka, dipikirannya bukan hanya tentang "awan mungkin terlalu terbiasa mendekati wanita sehingga pergerakannya begitu....halus". Pemikirannya berganti "jadi bagaimana agar ia tetap tinggal, denganku? ". Masih dengan rona nanar yang terpancar, suatu keadaan memaksa mereka dekat dalam jarak... Dengan waktu yang lama. Samudra merasa manis, memantaskan diri berdekatan dengan awan.
Suatu ketika, Awan masih senang bersembunyi, tapi ia sembunyi sendirian... Mendadak bergejolak, hati dan pikiran samudra bercabang. Dalam kemuraman itu, awan berubah menjadi gelap, dingin sekali. Rasanya beku, seperti.... Terjebak di lemari es (?) Kemudian samudra sadar, saat ini bukan lagi mengenai pengakuan atau kebanggaan dalam pelukan mega sang awan. Ia perlu mengatur egonya, agar tidak kehilangan (?) mungkin, anggap saja begitu.
Balutan angin malam, di perjalanan. Seperti sepasang kekasih, jalanan itu lengang sekali... Hangat dalam dingin atau mendadak kuat walau demam. Samudra merasa nyaman, masih bergumam dalam hati "mengapa aku merasa sayang?". Semenit kemudian samudra berbahagia, "sayang, tapi belum" ujar awan. Samudra bahagia di ikuti dengan rasa yang kembali bergejolak, lalu pemikiran samudra kembali tenang. Ia memang selalu terburu buru- tapi entah kenapa-dapat setenang ini menghadapi awan. Awalnya, bagi samudra semua hal harus segera pasti, terikat (?). Dan awan mampu meredamnya. Samudra dan awan bercengkrama menikmati skenario indah semesta. Berdua. Hingga akhirnya dipisah detik yang tak mengerti bagaimana cara melambat agar dapat mengulur waktu.
Kiokopi tempat kesukaanku, 19 Mei 2019
Kiokopi tempat kesukaanku, 19 Mei 2019
Sabtu, 18 Mei 2019
Penulis nya diam
Waktu itu aku bertanya pada hembus daun telinga udara malam
Apa kelemahan penulis?
Lalu ia jawab
Ketika pipinya mengembang
Warnanya merah
Dan matanya tenggelam
Kerutan sekitar matanya banyak sekali
Sepertinya ramah yang ter-ramah pun kalah...
Jadi tangannya mendadak lemas
Pikirannya tidak pada pena dan kertas itu
Lalu ia hanya diam
Merenung...dalam keadaan senang
Terus akhirnya gimana?
Ya dia diam saja...
Tak apa, puisi kadang tidak perlu dicetak atau di bagikan pada pembaca kan?
Kata penulis. Pada udara malam itu.
Malam minggu, 19 Mei 2019
Apa kelemahan penulis?
Lalu ia jawab
Ketika pipinya mengembang
Warnanya merah
Dan matanya tenggelam
Kerutan sekitar matanya banyak sekali
Sepertinya ramah yang ter-ramah pun kalah...
Jadi tangannya mendadak lemas
Pikirannya tidak pada pena dan kertas itu
Lalu ia hanya diam
Merenung...dalam keadaan senang
Terus akhirnya gimana?
Ya dia diam saja...
Tak apa, puisi kadang tidak perlu dicetak atau di bagikan pada pembaca kan?
Kata penulis. Pada udara malam itu.
Malam minggu, 19 Mei 2019
Kamis, 16 Mei 2019
Samudra dan Awan (I)
Beberapa manusia diciptakan untuk melangkapi manusia lain
Sebut saja mereka samudra dan awan.
Biar kudeskripsikan, samudra tidak dapat di eja, ia selalu berubah-se keinginan nya.
Takut dan menakutkan. Begitu penilaian sekitar. Baginya, semua makhluk adalah sumber salah kecuali dirinya. Terburu-buru, deburnya selalu keras. Di kegelapan. Tapi ia juga lemah, melemahkan dirinya dengan pemikirannya sendiri.
Awan. Luas, tak terbatas. Ia tenang dan lembut, serupa permen kapas atau isi bantal bayi. Baginya, tak perlu ia bahagia bila sekitar tersenyum karenanya. Tapi dalam awan selalu ada petir, ia perlu pemaksa untuk memuntahkannya lagi dan lagi.
Bagaimanapun terpisah, semesta selalu memiliki jalan mempertemukan. Samudra dan awan, dalam situasi tertentu ada dalam jalur yang sama. Dalam bahasa berjudul cinta. Kupikir begitu.
Pada suatu hari, dalam kejenuhan yang sangat besar, samudra melihat awan sedang merenung. Matanya begitu... Teduh, meneduhkan. Lalu samudra memalingkan mata, ia tidak percaya tentang apapun mengenai awan, cinta pandangan pertama atau mempersiapkan pernikahan. Beberapa detik setelah lirikannya berganti objek, awan menghampiri samudra "hai apa kabar?" ringan sekali rasanya awan menyapa. Disantapnya sapaan itu. Obrolan ringan diakhiri senyum kikuk tanda kehabisan topik pembicaraan.
Selang beberapa waktu, awan dan samudra, entah bagaimana caranya dan bagaimana ujungnya semakin dekat. Dalam pemikiran samudra, ia hanya harus menunggu waktu perpisahan terjadi. Samudra terlalu naif untuk mengakui pengharapannya. Di waktu yang sama, awan masih terus mengenal samudra, baginya apa yang ia suka perlu ia lakukan, dalam kelembutannya, samudra bercerita mengenai masa lalunya. Begitupun awan, mengenai pertimbangan, keraguan dan tujuan yang ingin ia capai.
Keduanya masih melarutkan diri dalam cumbuan alur cerita semesta. Sampai waktu yang belum dapat kutentukan.
Bandung, 17 Mei 2019
Selasa, 14 Mei 2019
Percakapan otak dan hati
Siang ini perutku tidak lapar
Pasalnya aku yang tidak berpuasa
Atau aku sudah kenyang karena bahagia?
Kuberitahu sesuatu ya
Sekarang...
Beberapa....
puisiku....
Sudah bertuan!!!
Hihihihi
Jangan bahagia dulu,
Siapa sangka tuan puisimu akan pulang?!
Ya tidak apa, Nanti aku ikut dia pulang saja
Huft apakah ada yang lebih bandel dari orang jatuh cinta?
Apa maksudmu?
Mereka sulit menerima saran! Biarlah!
Dalam beranda masing masing organ,
Percakapan antara otak dan hati terjadi
Sambil menunggu siapa duluan menyerah.
Grandsharon, 15 Mei 2019
Pasalnya aku yang tidak berpuasa
Atau aku sudah kenyang karena bahagia?
Kuberitahu sesuatu ya
Sekarang...
Beberapa....
puisiku....
Sudah bertuan!!!
Hihihihi
Jangan bahagia dulu,
Siapa sangka tuan puisimu akan pulang?!
Ya tidak apa, Nanti aku ikut dia pulang saja
Huft apakah ada yang lebih bandel dari orang jatuh cinta?
Apa maksudmu?
Mereka sulit menerima saran! Biarlah!
Dalam beranda masing masing organ,
Percakapan antara otak dan hati terjadi
Sambil menunggu siapa duluan menyerah.
Grandsharon, 15 Mei 2019
Minggu, 17 Februari 2019
Bagaimana niatmu?
Jika niatmu saat ini
Ialah menyingkirkan aku
Maka tidak perlu merasa sulit,
Menyiksa diri memaksakan kebaikan itu
Karena aku cukup tahu diri
Mundur dan berjalan melawan arah darimu
Tidak perlu kau repot mendorongku perlahan
Aku terlalu ringan untuk kau usir
Dari hidupmu
Ya atau tidak?
Untuk apa?
Perasaanmu padaku.
Karena aku sudah bersiap pergi jika jawabanmu tidak.
Demam pergilah, 17 Februari 2019
Ialah menyingkirkan aku
Maka tidak perlu merasa sulit,
Menyiksa diri memaksakan kebaikan itu
Karena aku cukup tahu diri
Mundur dan berjalan melawan arah darimu
Tidak perlu kau repot mendorongku perlahan
Aku terlalu ringan untuk kau usir
Dari hidupmu
Ya atau tidak?
Untuk apa?
Perasaanmu padaku.
Karena aku sudah bersiap pergi jika jawabanmu tidak.
Demam pergilah, 17 Februari 2019
Langganan:
Postingan (Atom)