Sabtu, 31 Agustus 2019

Hatinya Mutiara

Karena sebelum ini,
Aku sudah sekian kali singgah
Menepi
Sementara kapal terus berlayar
Pilihannya kembali sama
"mau menetap disini?"
"belum" jawabku

Yang dimata serupa sempurna
"masih belum" kataNya
Berlayar kembali aku, dengan kapalku
Sendirian.

Mulai lelah,
Tidak ingin memulai lagi
Berlayar sendiri tidak buruk
Kapalku terus berjalan, hanya saja
Semakin menua, semakin meletih
Gamang, galau

Kembali aku menepi
Pulau ini indah sekali...
Rerimbunan pohon
Kicauan burung
Tanda alam tenang masih asri

"Sekarang, menetap!?"
"ku pikirkan dulu, ku jawab kemudian"

Beberapa hari
Beberapa minggu
Beberapa bulan

"iya, aku akan menetap, lalu kemudian aku kembali berlayar, namun tidak sendirian"

Tulisanku belum selesai

Bandung, 1 september 2019


Minggu, 16 Juni 2019

Samudra dan Awan (VI)

Kali ini, samudra kembali sendiri. Petir telah menang, menarik awan kembali ke pelukannya. Lalu penulis dalam cerita ini menyesal, mengapa harus dinamai awan? Terasa berat sekali, ketika keluar rumah, kemanapun melangkah, bukankah awan yg mengelilingi bumi dan membungkus semesta?

Sampai waktu yang belum dapat ditentukan, samudra masih saja bersembunyi.

TAMAT

Rabu, 05 Juni 2019

Samudra dan Awan (V)

Senja ini, samudra mengalami ombak yang sangat besar, menggulung gulung, petir ikut mengiringi derasnya.
Awan sedikit tersibak kilatnya. Semengerikan itukah awan? Pikir samudra. Pada suatu waktu, kilat itu menyambar ombak samudra. Di lesatkan dengan kerasnya samudra oleh kilat tersebut. Kilat pernah menjadi bagian dari hidup awan yg samudra kenal! Oh ternyata dia kilat itu. Di satu sisi, kilat terus menghujam samudra, membuat samudra menjadi.... Membenci awan? Belum.
Samudra berusaha tenang, menenangkan ombaknya, menjaga hatinya, menjaga awan dan menjaga kisah mereka. Lalu di senja itu, kilat masih terus, tanpa lelah mempengaruhi samudra. Pada suatu titik, samudra melemah, iya bingung dengan apa yang harus ia putuskan. Perasaannya kah?  Atau perasaan kilat yang belum mau melepas awan pergi. Sedih sekali, bila perlu memilih, tidak perlu ada perjumpaan itu bukan? Tidak begitu. Samudra sangat menikmati, perjumpaan tersebut. Bukankah baru kemarin kalimat "jalani dulu saja" terlepas dari gumpalan ombak samudra itu? Mengapa begitu cepat?
Tanpa disadari. Satu hal yang tetap samudra pandang siang dan malam itu awan bukan?
Samudra selalu menegaskan, awan yang ia punya (sampai saat ini)  tetap sama. Lalu bagaimana cara agar dapat berpindah?
Dalam bisikan gusar ombak samudra "yang mau menyakitiku sudah banyak, haruskah kau menjadi salah satunya untuk tidak memperjuangkan aku awan?" dalam sendu penutup senja hari ini, samudra tetap gusar. Menunggu ditarik awan, atau dilepas jauh dan tidak kembali lagi.

Merak, 5 Juni 2019

Senin, 03 Juni 2019

Samudra dan Awan (IV)

Hari ini samudra kelewat bahagia, sampai tidak bisa tidur katanya.
Awan yang baru saja ia jumpai mendadak sempurna, susah sekali mencari celah rasanya, untuk membenci (?)
Untuk mempersiapkan perpisahan yang tidak diinginkan.
Tapi samudra masih saja berusaha menahan apa yang ia rasakan, katanya khawatir bila nanti... Bila nanti.

Dalam dingin udara dan semburat wajah awan, yang meneduhkan. Samudra memejamkan matanya "kita jalani dulu saja" dalam hati bergumam seraya menikmati terpaan angin diatas kulit yang sedang didalam genggaman hangat tangan awan.

Dijalan, 3 Juni 2019

Rabu, 29 Mei 2019

Bila

Menurutmu, 
Bagaimana bila saja kamu, menjadi orang baru dalam persinggahan?
Biasa saja. 
Lalu bagaimana bila saja kamu, menjadi pengganti bagi orang yang baru saja pergi? 
Maksudnya bagaimana? 
Maksudku, aku si orang baru, tempat yang aku singgahi baru saja ditinggal pemiliknya... 
Ya terus kenapa? Bukannya memang seperti itu biasanya? 
Bukan itu, iya tapi... Terlalu cepatkah bila aku menempatinya sekarang? Atau aku terlalu muluk meminta si empunya tempat melayaniku dengan baik? 
Sederhananya seperti ini, bila dia yang pergi adalah pemiliknya, maka ia akan kembali pulang.
Oh ya... Itu yang perlu aku pastikan.

Tanggal merah, 30 Mei 2019

Ombak

Mungkin aku terlalu lama
Dikukung gelap menjelma malam yang panjang,
Sendirian
Sebab setelah itu aku seperti dingin
Dan terlalu takut.

Kadang aku tidak paham
Hanya saja ombak itu masih sering pasang
Andai kau mengerti
Aku sudah sangat berusaha meredamnya
Hingga akhirnya lelah
Tenggelam tergulung ombak
Ke tengah laut
Dan kembali tenggelam lagi
Sendirian.

Pikiranku bercabang, 29 Mei 2019

Jumat, 24 Mei 2019

Rumah untuk pulang

Salah satu teman saya (laki-laki)  sedang di uji jarak karena istrinya harus menyelesaikan studinya. Beberapa kali saya liat ia tenggelam dalam komunikasi 2 arah via telepon genggam. Raut wajahnya bahagia sekali... kerut disekitar mata, senyum yang tersungging lebar dan suara yang meneduhkan sepasang telinga di seberang.
Pada suatu siang, saya bertanya padanya "kang, gimana sendirian dirumah tanpa istri? " lalu lawan bicara menjawab "hmmm gimana ya mut.. Rasanya seperti ada yang kurang dan hilang, semangat sedikit menurun, aku berasa setengah gitu. . pulang kerumah rasanya seperti bukan pulang" jawabnya. Bukankah definisi pulang menjadi berubah? Bukan hanya rumah maksudku. Betulkah?

Lalu saya menjadi teringat pada almarhum andung (kakek)  saya di Lampung, sepeninggal istrinya atau eyangku, andung menjadi lebih pemurung (?) dan mudah sekali menangis ketika cucunya telpon. Ketika mudik beberapa bulan sebelum andung meninggal, andung berkata pada saya : "tia, rumah ini sepi ya ga ada eyang, rumah ini bukan lagi seperti rumah setelah eyang meninggal" saya yang mendengar hanya diam. Memang terasa sekali perbedaannya setelah eyang pergi rasanya...dingin serupa tak bernyawa lagi.

Juga saat mama harus pergi ke undangan saudara di luar kota. Saya dan adik adik ditinggal bertiga dirumah, hanya sementara. Tapi setiap pulang kerja rasanya menjadi beda. Tanpa ada suara minyak dipanasi setiap pagi atau suara pot tanaman tersiram air di sore hari, hal kecil yang mama lakukan terasa....kurang bila bukan beliau yang melakukannya. Karena setiap hari begitu? Mungkin. Rumah bukan rumah tanpa mama.

Istri, mama, eyang ialah  perempuan yang akan selalu menjadi tempat pulang bagi suami, anak dan cucunya. Sejatinya, semua hal yang didasari atas ketulusan akan berbuah kebaikan, karena ketiganya sudah berhasil menyayangi dengan tulus dan akan terus menjadi rumah bagi kami untuk pulang. Pun suatu saat akan berpulang, rumah tetap rumah. Doa yang terpanjat selalu paham kemana ia harus pulang, mendoakan ibu, istri atau nenek yang sudah meninggal.

 Rasanya jarak begitu berarti saat ini, dalam penantian dan takdir bahwa aku akan segera menjadi tempat untuk pulang bagi suami dan anak anak suatu hari nanti. Semoga.

Grandsharon, 24 Mei 2019