Rabu, 29 Mei 2019

Bila

Menurutmu, 
Bagaimana bila saja kamu, menjadi orang baru dalam persinggahan?
Biasa saja. 
Lalu bagaimana bila saja kamu, menjadi pengganti bagi orang yang baru saja pergi? 
Maksudnya bagaimana? 
Maksudku, aku si orang baru, tempat yang aku singgahi baru saja ditinggal pemiliknya... 
Ya terus kenapa? Bukannya memang seperti itu biasanya? 
Bukan itu, iya tapi... Terlalu cepatkah bila aku menempatinya sekarang? Atau aku terlalu muluk meminta si empunya tempat melayaniku dengan baik? 
Sederhananya seperti ini, bila dia yang pergi adalah pemiliknya, maka ia akan kembali pulang.
Oh ya... Itu yang perlu aku pastikan.

Tanggal merah, 30 Mei 2019

Ombak

Mungkin aku terlalu lama
Dikukung gelap menjelma malam yang panjang,
Sendirian
Sebab setelah itu aku seperti dingin
Dan terlalu takut.

Kadang aku tidak paham
Hanya saja ombak itu masih sering pasang
Andai kau mengerti
Aku sudah sangat berusaha meredamnya
Hingga akhirnya lelah
Tenggelam tergulung ombak
Ke tengah laut
Dan kembali tenggelam lagi
Sendirian.

Pikiranku bercabang, 29 Mei 2019

Jumat, 24 Mei 2019

Rumah untuk pulang

Salah satu teman saya (laki-laki)  sedang di uji jarak karena istrinya harus menyelesaikan studinya. Beberapa kali saya liat ia tenggelam dalam komunikasi 2 arah via telepon genggam. Raut wajahnya bahagia sekali... kerut disekitar mata, senyum yang tersungging lebar dan suara yang meneduhkan sepasang telinga di seberang.
Pada suatu siang, saya bertanya padanya "kang, gimana sendirian dirumah tanpa istri? " lalu lawan bicara menjawab "hmmm gimana ya mut.. Rasanya seperti ada yang kurang dan hilang, semangat sedikit menurun, aku berasa setengah gitu. . pulang kerumah rasanya seperti bukan pulang" jawabnya. Bukankah definisi pulang menjadi berubah? Bukan hanya rumah maksudku. Betulkah?

Lalu saya menjadi teringat pada almarhum andung (kakek)  saya di Lampung, sepeninggal istrinya atau eyangku, andung menjadi lebih pemurung (?) dan mudah sekali menangis ketika cucunya telpon. Ketika mudik beberapa bulan sebelum andung meninggal, andung berkata pada saya : "tia, rumah ini sepi ya ga ada eyang, rumah ini bukan lagi seperti rumah setelah eyang meninggal" saya yang mendengar hanya diam. Memang terasa sekali perbedaannya setelah eyang pergi rasanya...dingin serupa tak bernyawa lagi.

Juga saat mama harus pergi ke undangan saudara di luar kota. Saya dan adik adik ditinggal bertiga dirumah, hanya sementara. Tapi setiap pulang kerja rasanya menjadi beda. Tanpa ada suara minyak dipanasi setiap pagi atau suara pot tanaman tersiram air di sore hari, hal kecil yang mama lakukan terasa....kurang bila bukan beliau yang melakukannya. Karena setiap hari begitu? Mungkin. Rumah bukan rumah tanpa mama.

Istri, mama, eyang ialah  perempuan yang akan selalu menjadi tempat pulang bagi suami, anak dan cucunya. Sejatinya, semua hal yang didasari atas ketulusan akan berbuah kebaikan, karena ketiganya sudah berhasil menyayangi dengan tulus dan akan terus menjadi rumah bagi kami untuk pulang. Pun suatu saat akan berpulang, rumah tetap rumah. Doa yang terpanjat selalu paham kemana ia harus pulang, mendoakan ibu, istri atau nenek yang sudah meninggal.

 Rasanya jarak begitu berarti saat ini, dalam penantian dan takdir bahwa aku akan segera menjadi tempat untuk pulang bagi suami dan anak anak suatu hari nanti. Semoga.

Grandsharon, 24 Mei 2019

Rabu, 22 Mei 2019

Samudra dan Awan (III)

Sebuah catatan kecil samudra

Bagi samudra, awan itu hanya 1
Dan bila suatu saat awan hilang
Maka samudra akan tetap mampu melihat awan...
Karena awan yang ini begitu luas dan indah untuk dipandang
Bila suatu saat awan hilang,
untuk samudra,
maka ia akan tetap memandang awan, tidak peduli awan sengaja menjauh atau bersembunyi
Karena awan begitu luas... Dan samudra akan tetap mampu melihatnya
Tidak peduli mungkin samudra perlu lebih menahan ombaknya tetap terjaga.
sulit ? Pasti, bagaimana bisa samudra mengendalikan gelombang?
Karena tanpa disadari awan begitu berarti...bagi yang menunggunya

Malam ini memang sendu, 23 Mei 2019

Malam ini sendu

Malam ini sendu sekali
Di hidung,  mata dan hati
Semuanya seperti kompak menyerangku
Dari segala arah...
Mereka juga kompak membuat aku seperti,  lemah (?)
Entahlah, hanya saja malam ini...
Sendu...
Sendu sekali...

23 Mei 2019

maaf

Dalam suatu keadaan tertentu
Dari 2 kepala dan hati di tubuh yang berbeda, 
Maka mencapai seiring-sejalan itu sulit
Yang dimaksud hati tak tersampaikan
Yang direncanakan akal sulit terwujud
Terlebih jika itu mengenai kekhawatirannya...yang berlebihan (?)
Dan menarik seseorang masuk kedalam mungkin ide buruk
Karena seseorang dengan suatu kekhawatiran tertentu akan terlihat lebih...menjaga (?)
Hingga akhirnya ia lupa dan kekhawatirannya berganti
Dan maaf bila aku memaksa kamu masuk... Apapun, aku akan tetap bertanggung jawab bila diperlukan

Malam ini sendu, 22 Mei 2019

Minggu, 19 Mei 2019

Semenjak...

Semenjak tadi malam,
Maka membaca pesan di surelku
Ialah definisi bahagia dan sekarat
yang menyenangkan
Seperti aku kaku lalu bergejolak
Lagi dan lagi.
Tapi aku kecanduan.
Dan semenjak tadi malam,
Maka pesan singkat darimu
Adalah definisi bahagia yang akan terus
Aku kutip.

Tanggal 19 mei saja

Maaf. Ya

Maaf.
Maaf ya.
Maafin aku.

Kalau semua hal itu diteruskan,
Pastilah bentuknya seperti timeline di hari lebaran.
Bukan itu maksudku.
Malam ini mungkin aku kembali membuat ragu si tuan. Katanya ia tidak suka tempat ramai, tapi aku suka....
Dan aku memaksanya untuk bertahan di keramaian
Egois sekali aku.
Tapi bukan lagi itu maksudku
Aku ingin ditarik olehmu ke tenang dan bersembunyi ditempat kesukaanmu itu.
Ups, maaf aku kembali memaksamu
Aku hanya ingin ikut...
Dengan kamu tapi ya?

19 Mei 2019

Samudra dan Awan (II)

Kali ini pemikiran samudra mulai terbuka,  dipikirannya bukan hanya tentang "awan mungkin terlalu terbiasa mendekati wanita sehingga pergerakannya begitu....halus". Pemikirannya berganti "jadi bagaimana agar ia tetap tinggal, denganku? ". Masih dengan rona nanar yang terpancar, suatu keadaan memaksa mereka dekat dalam jarak... Dengan waktu yang lama. Samudra merasa manis, memantaskan diri berdekatan dengan awan.

Suatu ketika, Awan masih senang bersembunyi, tapi ia sembunyi sendirian... Mendadak bergejolak, hati dan pikiran samudra bercabang. Dalam kemuraman itu,  awan berubah menjadi gelap, dingin sekali. Rasanya beku, seperti.... Terjebak di lemari es (?) Kemudian samudra sadar, saat ini bukan lagi mengenai pengakuan atau kebanggaan dalam pelukan mega sang awan. Ia perlu mengatur egonya, agar tidak kehilangan (?) mungkin, anggap saja begitu.

Balutan angin malam, di perjalanan. Seperti sepasang kekasih, jalanan itu lengang sekali... Hangat dalam dingin atau mendadak kuat walau demam. Samudra merasa nyaman, masih bergumam dalam hati "mengapa aku merasa sayang?". Semenit kemudian samudra berbahagia, "sayang, tapi belum" ujar awan. Samudra bahagia di ikuti dengan rasa yang kembali bergejolak, lalu pemikiran samudra kembali tenang. Ia memang selalu terburu buru- tapi entah kenapa-dapat setenang ini menghadapi awan.  Awalnya, bagi samudra semua hal harus segera pasti, terikat (?). Dan awan mampu meredamnya. Samudra dan awan bercengkrama menikmati skenario indah semesta. Berdua. Hingga akhirnya dipisah detik yang tak mengerti bagaimana cara melambat agar dapat mengulur waktu. 

Kiokopi tempat kesukaanku, 19 Mei 2019

Sabtu, 18 Mei 2019

Penulis nya diam

Waktu itu aku bertanya pada hembus daun telinga udara malam
Apa kelemahan penulis?
Lalu ia jawab
Ketika pipinya mengembang
Warnanya merah
Dan matanya tenggelam
Kerutan sekitar matanya banyak sekali
Sepertinya ramah yang ter-ramah pun kalah...
Jadi tangannya mendadak lemas
Pikirannya tidak pada pena dan kertas itu
Lalu ia hanya diam
Merenung...dalam keadaan senang

Terus akhirnya gimana?
Ya dia diam saja...
Tak apa, puisi kadang tidak perlu dicetak atau di bagikan pada pembaca kan?
Kata penulis. Pada udara malam itu.

Malam minggu, 19 Mei 2019

Kamis, 16 Mei 2019

Samudra dan Awan (I)

Beberapa manusia diciptakan untuk melangkapi manusia lain
Sebut saja mereka samudra dan awan.

Biar kudeskripsikan, samudra tidak dapat di eja, ia selalu berubah-se keinginan nya. 
Takut dan menakutkan. Begitu penilaian sekitar. Baginya, semua makhluk adalah sumber salah kecuali dirinya. Terburu-buru, deburnya selalu keras. Di kegelapan. Tapi ia juga lemah, melemahkan dirinya dengan pemikirannya sendiri.  

Awan. Luas, tak terbatas. Ia tenang dan lembut, serupa permen kapas atau isi bantal bayi. Baginya, tak perlu ia bahagia bila sekitar tersenyum karenanya. Tapi dalam awan selalu ada petir, ia perlu pemaksa untuk memuntahkannya lagi dan lagi. 

Bagaimanapun terpisah, semesta selalu memiliki jalan mempertemukan. Samudra dan awan, dalam situasi tertentu ada dalam jalur yang sama. Dalam bahasa berjudul cinta. Kupikir begitu. 

Pada suatu hari, dalam kejenuhan yang sangat besar, samudra melihat awan sedang merenung. Matanya begitu... Teduh,  meneduhkan. Lalu samudra memalingkan mata, ia tidak percaya tentang apapun mengenai awan, cinta pandangan pertama atau mempersiapkan pernikahan. Beberapa detik setelah lirikannya berganti objek, awan menghampiri samudra "hai apa kabar?" ringan sekali rasanya awan menyapa. Disantapnya sapaan itu. Obrolan ringan diakhiri senyum kikuk tanda kehabisan topik pembicaraan. 

Selang beberapa waktu, awan dan samudra, entah bagaimana caranya dan bagaimana ujungnya semakin dekat. Dalam pemikiran samudra, ia hanya harus menunggu waktu perpisahan terjadi. Samudra terlalu naif untuk mengakui pengharapannya. Di waktu yang sama, awan masih terus mengenal samudra, baginya apa yang ia suka perlu ia lakukan, dalam kelembutannya, samudra bercerita mengenai masa lalunya. Begitupun awan, mengenai pertimbangan, keraguan dan tujuan yang ingin ia capai. 

Keduanya masih melarutkan diri dalam cumbuan alur cerita semesta. Sampai waktu yang belum dapat kutentukan.

Bandung, 17 Mei 2019

Selasa, 14 Mei 2019

Percakapan otak dan hati

Siang ini perutku tidak lapar
Pasalnya aku yang tidak berpuasa
Atau aku sudah kenyang karena bahagia?
Kuberitahu sesuatu ya
Sekarang...
Beberapa....
puisiku....
Sudah bertuan!!!
Hihihihi

Jangan bahagia dulu,
Siapa sangka tuan puisimu akan pulang?!
Ya tidak apa, Nanti aku ikut dia pulang saja
Huft apakah ada yang lebih bandel dari orang jatuh cinta?
Apa maksudmu?
Mereka sulit menerima saran! Biarlah!

Dalam beranda masing masing organ,
Percakapan antara otak dan hati terjadi
Sambil menunggu siapa duluan menyerah.

Grandsharon, 15 Mei 2019